[Fan Fiction] GADIS BERKIMONO PUTIH




Tittle : GADIS BERKIMONO PUTIH
Author : Lulu Kanzaki
Genre : Reality of Life, Mystery
Rate : All Ages
Length : One Shot
Cast : Miura Haruma as "Aku" , Haruka Ayase as Yuki, Sato Ryuta as Kawato
Disclaimer : This Story originally from my own imagination. Im not the owner of the characters. Please, don't repost and reblog without my permission.

=================================


  


Kuturunkan mayat yang masih hangat itu dengan hati-hati. Kurogoh kantong bajunya, dan aku menemukan sesuatu yang kucari : dompet. Kukeluarkan tanda pengenal yang berada di dalam dompet tersebut. Dia bernama Yugi Sakamoto, CEO perusahaan ternama di Jepang. Ah! aku pernah melihatnya di koran. Perusahannya sedang pailit.  Kulihat ada 5000  Yen di dalam dompet, lalu kuambil separuhnya. Sebelum meninggalkan Sugi Sakamoto, aku mendoakannya supaya ia tenang di alam sana. 

Ya, itulah pekerjaanku di Jepang. Kusebut diriku sendiri sebagai ‘perampok mayat’. Sungguh ironis. Aku jauh-jauh dari Indonesia untuk mencari pekerjaan di negara metropolitan dan akhirnya menjadi perampok mayat di hutan Aokigahara.  Hutan ini berada di kaki gunung Fuji. Hutan ini memang tempat populer untuk bunuh diri. Sejak abad ke-19 tempat ini digunakan untuk ritual Ubasute yaitu menyepi hingga ajal. Popularitas Aokigahara sebagai ‘surga’ bagi para pemulung yang memunguti harta tertinggal milik korban bunuh diri mencuat setelah rilis  sebuah  film berjudul Jyukai. Sang sutradara sesumbar telah menemukan uang US$ 3.760 di sebuah dompet yang diduga milik orang yang bunuh diri.

ooOoo

Aku melihat sekelilingku dengan was-was. Berharap tidak ada yang melihatku. Aku mendekati mayat yang tercekik tali di sebuah pohon. Dengan susah payah kulepaskan tali itu. Badannya sudah dingin. Aku bisa menerka dia meninggal kira-kira tiga jam yang lalu. Aku selalu ingin mengetahui nama mayat yang kurampok sebelum aku mengambil hartanya. Dengan begitu aku bisa mendoakannya. Seperti biasa aku hanya mengambil separuh uang dari dompet si mayat karena pemulung di sini tidak hanya aku. Kami selalu berbagi walaupun kami tidak pernah bertemu satu sama lain. Pernah suatu hari aku memergoki seorang anak laki-laki, kira-kira berumur 10 tahun, sedang mengambil uang orang yang bunuh diri. Keesokan harinya kutemukan bocah laki-laki itu sudah tidak bernyawa dengan tali mencekik lehernya. Tingkat harga diri orang Jepang memang sangat tinggi. Mereka mempunyai rasa malu. Sangat kontras jika dibandingkan dengan orang Indonesia, apalagi para petinggi negara. Di Jepang ada seorang menteri yang masih diduga korupsi saja langsung bunuh diri. Sedangkan di Indonesia? sudah jelas bahwa mereka melakukan korupsi tapi mereka bisa mengelak dengan mudahnya.

“Apa yang kau lakukan?” aku tersentak dari lamunanku. Aku mendapati seorang gadis berkimono putih sedang melihatku dengan tatapan sinis. Kecantikan khas wanita Jepang kutemukan di wajahnya. Suaranya sangat merdu. Apakah dia hantu? Di Aokigahara memang sangat menyeramkan. Sejak tahun 1970, dibentuk tim yang terdiri dari polisi, relawan, dan jurnalis yang bertugas menyusur hutan mencari mayat-mayat. Namun, kerja tim tersebut kalah berat ketimbang pekerja hutan. Merekalah yang bertugas membawa mayat dari hutan ke pos penjagaan hutan. Tubuh mayat yang kadang sudah membusuk diletakkan di kamar khusus untuk para korban bunuh diri. Para pekerja itu kemudian melakukan undian, siapa yang kalah akan diberi tugas khusus yaitu tidur di ruangan bersama jenazah. Sebab jika jenazah ditinggalkan sendirian, diyakini akan berakibat buruk. Arwah penasaran jenazah itu yang disebut yurei akan menjerit-jerit sepanjang malam. Tak hanya itu, jenazah itu akan berpindah dengan sendirinya. Ah! Walaupun dia hantu, aku tetap mengagumi kecantikannya.
“Menjijikkan! Apa yang kau lakukan itu benar-benar menjijikkan!” maki gadis berkimono putih itu dengan sinis. Walaupun begitu, suaranya sangat merdu di telingaku. Gadis itu melepaskan giwangnya dan melemparkannya kearahku.
“Bawa ini dan pergilah! Aku tak sudi tubuhku kau sentuh” dengan ragu-ragu kuambil giwang emas itu dan segera pergi. Kutengokkan kepalaku, kulihat gadis itu masih berdiri di tempat yang sama. Sebenarnya aku ingin sekali mencegahnya bunuh diri, tapi aku terlalu pengecut untuk melakukannya.

ooOoo
 
Kulihat gunug Fuji dengan salju abadi berdiri dengan kekarnya. Bulan Maret yang berarti musim semi, bunga Sakura bermekaran. Banyak turis lokal maupun mancanegara yang datang ke sini untuk melihat indahnya bunga Sakura. Diantara kerumunan orang, kutemukan sosok gadis yang tak asing lagi di mataku. Dia sangat familiar. Dia mengenakan kimono merah jambu dengan aksen bunga Sakura putih yang sangat cantik. Dengan langkah bimbang kudekati gadis itu. Hanya berjarak beberapa meter aku berhenti. Nyaliku tiba-tiba menciut ketika gadis itu menatapku. Jantungku berdegup kencang seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Gadis yang dulu kutemui di hutan Aokigahara itu mendekatiku.
“Kau masih hidup?” tanyanya sinis.
“Eh? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Bukankah waktu itu kau ingin bunuh diri?”
“Kau memang tidak punya malu” katanya lebih tajam. “Apa yang kau lakukan sama persis dengan petinggi di negaramu, tidak punya malu” ucapnya sambil tersenyum sinis. Hatiku langsung mencelos mendengarnya. Haish.. apa yang dia katakan memang benar.
“Aku memang tidak punya malu. Tapi setidaknya aku masih memiliki semangat untuk hidup. Tidak seperti kau dan orang-orang di negaramu ini” Air mukanya sedikit berubah, dan aku senang melihatnya.
“Punya semangat hidup tetapi tidak punya malu? Moto hidup macam apa itu? Sungguh menyedihkan” sekali lagi hatiku mencelos mendengarkan kata-katanya. Posisiku semakin terpojok. Ingin rasanya aku lari sejauh mungkin meninggalkan gadis ini.
“Sebenarnya apa maumu?” kucoba untuk mengalihkan pembicaraan.
“Mauku?” dia mendekatiku sambil tersenyum sinis. “Aku ingin kau mati”. JEGR!! Badanku rasanya seperti tersambar petir. Dia bilang apa barusan? Dia ingin aku mati?
“Apa maksudmu?” aku benar-benar tidak mengerti apa maksud perkataannya. Gadis itu tidak menjawab. Wajahnya masih dihiasi oleh senyum sinis. Tatapannya yang tajam seolah-olah dia benar-benar menginginkan aku mati.

ooOoo

Bulan Maret merupakan akhir tahun fiskal. Lebih banyak orang datang ke Aokigahara karena buruknya kondisi ekonomi. Segala upaya dilakukan untuk menghentikan bunuh diri di Hutan Aokigahara. Salah satunya memasang CCTV dan melacak orang yang akan menuju hutan angker tersebut. Karena itu, aku memilih jalan berputar untuk menghindari rekaman kamera CCTV. Di dalam gelapnya hutan, aku berjalan dengan hati-hati. Mataku sudah terbiasa dengan gelap, jadi aku tidak membutuhkan alat penerangan.
Langkahku berhenti. Sepertinya aku melihat sesuatu. Aku tidak percaya tentang hantu, walaupun aku sering mendengar jeritan-jeritan dari makhluk kasat mata di sini. Aku sudah terbiasa dengan semua ini, tapi mengapa jantungku berdegup kencang? rasanya jantungku ingin melompat keluar. Kudekati dengan hati-hati supaya tidak menimbulkan suara. Dibalik pohon, kulihat seorang gadis berkimono merah jambu dengan aksen bunga sakura putih. Bah! Aku bertemu dengan dia lagi.
“Apa yang kau lakukan?” aku terlonjak kaget. Bagaimana bisa dia mengetahui keberadaanku? Kukumpulkan keberanianku untuk mendekatinya.
“Kau ingin bunuh diri?” dengan cahaya rembulan yang terang aku bisa melihat senyum sinis dan tatapan matanya tang tajam.
“Kau masih berani menampakkan wajahmu? Aku sudah memergokimu sedang melucuti harta orang yang meninggal, dan kau masih berani berdiri di depanku? Seharusnya kau sudah mati. Kau memang tidak punya malu” sekarang aku sudah terbiasa dengan caciannya. Kurogoh saku celanaku. Aku masih menyimpan giwang gadis itu di sini. Kukembalikan giwang yang ia berikan kepadaku tempo hari.
“Ambil kembali giwangmu. Aku tidak mau menerima sesuatu dari seorang pengecut. Daripada berani mati lebih baik berani hidup ,Hadapi kehidupan dengan penuh ksatria, maka hidup akan terasa lebih bernilai” aku terheran-heran sendiri dengan apa yang barusan kukatakan. Tidak pernah terlintas di benakku untuk berkata seperti itu. Semua mengalir begitu saja. “Jika kau bunuh diri, maka kau mati sebagai seorang pengecut” kubalikkan badanku dan meninggalkannya. Bukankah ini sangat dramatis?
“Mengapa waktu itu kau tidak mencegahku?” aku menghentikan langkanhku. “Mengapa kau tidak mencegahku bunuh diri?” aku membalikkan badan. Mencerna apa yang barusan dia katakan.
“Apa maksudmu?” mencoba berfikir realistis, itu yang sedang kulakukan. Perasaanku menjadi tidak enak. Lututku mulai gemetaran. Dengan sekuat tenaga aku menatap gadis yang berada di depanku.
“Mengapa kau tidak mencegahku?” dia mendekat, tapi kakiku tidak bisa digerakkan. Dia semakin mendekat. Apa yang harus kulakukan?
Dia membelai wajahku dengan tangan dinginnya. Jantungku berdetak tak karuan. Dia mendekatkan kepalanya. Aku bisa melihat matanya merah menyala. Keringat dingin mulai mengucur. Sesuatu seperti cacing keluar dari mulutnya. Hewan-hewan aneh ini merayapi tubuhku. Dia menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang runcing. Dia mendekati leherku dan...
ARRGGHHH!!!!

ooOoo

Aku tersentak bangun dari tidurku. Keringat dingin membasahi bajuku. Jantungku berdegup tak karuan. Haish.. mimpi macam apa itu? Mengapa gadis berkimono putih yang kutemui di Aokigahara tadi malam masuk dalam mimpiku? Kulirik giwang emas milik gadis itu yang masih tergeletak di meja. Ini sangat mengerikan. Setelah sekian lama menjadi ‘perampok mayat’ baru kali ini aku bermimpi buruk seperti ini. Apakah ini pertanda bahwa aku harus berhenti menjadi ‘perampok mayat’ ? 

Kulangkahkan kakiku keluar rumah. Kuambil koran yang tergeletak di lantai. Kucari halaman yang memuat iklan lowongan pekerjaan. Kususuri iklan-iklan tersebut dengan jariku. Editor bahasa Inggris? Sepertinya cocok untukku. Aku memang fasih berbahasa inggris, tapi nasibku terlalu buruk sehingga aku hanya menjadi ‘perampok mayat’.

ooOoo

“Aku telah selesai mengeditnya. Semua sudah fix” Kawato-san mengangguk puas. Dia adalah atasanku. Sudah tiga bulan aku bekerja di sini sebagai editor bahasa Inggris. Kupincingkan mataku ketika melihat sebuah foto berbingkai kayu tua. Selama ini aku tidak pernah melihatnya.
“Dia putriku, Yuki. Dia meninggal bunuh diri tiga bulan yang lalu” ujar Kawato-san menjawab keingintahuanku.
“Meninggal?” Aku tahu ini tidak sopan, tapi aku sangat penasaran. Gadis itu sangat familiar.
“Bunuh diri di Aokigahara. Semua ini salahku. Dia tidak terima karena aku dan istriku bercerai” tersirat kesedihan yang mendalam di wajahnya. Gadis bunuh diri di Aokigahara? Tiga bulan yang lalu? Ah! Aku ingat. Gadis berkimono putih!
“Sebaiknya kau segera mengerjakan tugasmu yang lain, anak muda” perintah Kawato-san membuyarkan lamunanku. Setelah membungkukkan badan aku segera keluar dari ruangannya. Ini hanya kebetulan atau apa? Seakan-akan hidupku terpaut dengan gadis berkimono putih itu. Apa aku harus menceritakan semua ini pada Kawato-san?

Tiba-tiba napasku tercekat. Di kejauhan terdapat sosok gadis bernama Yuki, gadis yang kutemui di Aokigahara tiga bulan yang lalu. Dia tersenyum. Ya, tidak salah lagi dia tersenyum kepadaku. Dia sangat cantik dengan kimono merah jambu dengan aksen bunga Sakura persis seperti dalam mimpiku. Aku membalas senyumnya dan hendak menghampirinya. Tapi sosoknya hilang ditelan dimensi lain kehidupan. Ah.. aku ingin sekali mengucapkan terima kasih kepadanya. Dia telah mengubah hidupku. Jika aku tidak bertemu dengannya tiga bulan yang lalu dan tidak bermimpi tentangnya, mungkin saat ini aku masih menjadi ‘perampok mayat’.

Tapi, mengapa dia menampakkan diri dan tersenyum kepadaku? Ah.. mungkin aku setampan aktor keren Miura Haruma sampai-sampai yurei pun jatuh cinta kepadaku. Haha.. pikiran bodoh macam apa ini? Jika aku bertemu dengan dia lagi aku ingin mengatakan, “Doumo arigatou Yuki-san…”


[SELESAI]




:: JPOP Indonesia ::

4 komentar untuk "[Fan Fiction] GADIS BERKIMONO PUTIH"

Anonim 2 Juni 2012 pukul 10.58 Hapus Komentar
ini pemenang lombanya kah?
admin 2 Juni 2012 pukul 12.55 Hapus Komentar
Bukan, pemenang lomba akan diumumkan tgl 2 Juni sekitar jam 8 ^^
Anonim 2 Juni 2012 pukul 13.28 Hapus Komentar
owh..oke...
udah gak sabar ^^
*pengen post ff ke fb sendiri juga soalnya ^^
Anonim 2 Juni 2012 pukul 13.52 Hapus Komentar
gak bayangin kalo miura haruma beneran orang indo...
ahahahahaha..
kok ya pas banget gt dia dapet kerja di perusahaan papanya si cewek ^^