[Fan Fiction] When First Love End




Title: When First Love End
Author: Ratih S. [@mitoo_yuu / YuuHi Mitoo]
Genre: Romance
Rate: PG-13
Cast: Matsumura Hokuto (Johnny Jr.), Shimazaki Haruka (AKB48)
Disclaimer: Matsumura Hokuto & Johnny’s Junior belongs to Johnny’s Entertaintment, Shimazaki Haruka belongs to AKB48, drama Shiritsu Bakaleya Kokou belongs to Nihon TV I just own the story and plot^^

=====================

Angin berhembus lembut dan mengantarkan aroma musim semi ke segala penjuru. Tak jarang, kelopak-kelopak bunga Sakura yang berguguran juga ikut terbawa oleh sang bayu. Cahaya sang surya juga ikut menghangatkan udara musim semi yang masih sedikit dingin kala itu. Suasana yang benar-benar pas sebagai latar belakang untuk pengambilan gambar sebuah drama yang dibintangi oleh enam orang Johnny’s Junior dan member AKB48 yang kini sedang berlangsung.
“Yak, cut!”, suara sang sutadara menghentikan semua gerakan semua pemain yang sedari tadi bergerak memainkan perannya. Segera, para pemain tersebut berjalan meninggalkan depan kamera. Ada yang langsung bergerak menuju monitor untuk melihat hasil rekaman, ada yang berjalan menghampiri managernya bahkan ada pula yang segera mengambil naskah untuk menghapalkan dialog berikutnya. Matsumura Hokuto, pemuda yang merupakan anggota Johnny’s Junior itu termasuk salah satu diantara para pemain yang segera menegak air mineral yang sudah disediakan untuk menghilangkan dahaganya.
“Sekarang kita istirahat sebentar sebelum pengambilan gambar di dalam gedung!”, kini suara sang asisten yang terdengar ketika gambar yang tadi diambil dirasa sudah cukup bagus.
Hokuto baru saja akan beranjak menuju ruang ganti ketika melihat Shimazaki Haruka, gadis yang berperan sebagai Shingyouji Fumie pada drama tersebut berjalan menuju taman bunga sakura yang tidak jauh dari lokasi pengambilan gambar. Penasaran, pemuda kelahiran bulan Juni itu memutuskan untuk mengikutinya.
Di taman, kelopak-kelopak sakura berguguran layaknya salju yang turun perlahan ke bumi. Membentuk tirai merah muda dan menghiasi langit biru. Dan diantara segala pesona musim semi tersebut, gadis itu, Shimazaki Haruka tampak berdiri diam di dekat salah satu pohon sakura. Menutup matanya, gadis itu begitu menikmati semilir angin lembut serta aroma manis bunga sakura yang menguar memenuhi udara.
“Kirei da ne[1]”, ucapan Hokuto yang entah sejak kapan sudah berada di samping Haruka membuat gadis itu sontak membuka matanya dan menoleh.
“Un”, mengangguk pelan, gadis itu kemudian mengikuti pandangan Hokuto yang tengah menikmati indahnya bunga sakura.
Diantara keheningan yang menyelimuti keduanya, Hokuto sempat mencuri pandang pada gadis di sampingnya itu. Sebenarnya sudah sejak lama pemuda itu mengagumi Haruka. Jauh sebelum Johnny-san menyuruhnya untuk membintangi drama yang akan segera selesai masa penayangannya tersebut. Bisa dibilang, Hokuto adalah salah satu fans dari gadis yang sebenarnya setahun lebih tua darinya itu. Namun setelah bertemu dengannya, melihat gadis itu memainkan perannya, melihatnya tertawa dan tersenyum secara  langsung, rasa kagum yang selama ini dirasakan sang pemuda entah sejak kapan berkembang dan berubah menjadi rasa yang kemudian diketahuinya sebagai cinta. Gadis itu, cinta pertamanya...
Pemuda itu sebenarnya ingin mengutarakan perasaannya. Menggenggam tangan sang gadis dan menghabiskan waktu berdua dengannya layaknya sepasang kekasih. Pemuda itu ingin tahu rasanya dimabuk cinta seperti remaja pada umumnya, tapi ia tahu semuanya hanya angan belaka. Peraturan di agensi tempatnya berada melarangnya untuk berpacaran hingga umur tertentu, begitu juga halnya Haruka. Cinta atau impian, ia hanya bisa memilih salah satu diantaranya.
“Apa ada sesuatu di wajahku?”, tanya Haruka saat menyadari pandangan Hokuto.
Tersenyum, pemuda itu perlahan mengulurkan tangannya. “Ada kelopak bunga di rambutmu”, ujarnya sambil mengambilkan kelopak sakura dari kepala Haruka. Ingin rasanya Hokuto menahan tangannya agar tidak bergerak menjauh dan membelai puncak kepala sang gadis, tapi tentu saja hal itu tidak mungkin. Memperlambat gerakannya, hanya sebatas itulah yang bisa ia lakukan. Pemuda itu tak menyadari kalau perlakuannya itu hampir membuat jantung sang gadis melompat dari tempatnya.
“Kalian! Pengambilan gambar berikutnya akan segera dimulai!”, suara salah satu staf yang menyusulnya dan Haruka mengaburkan lamunan sang pemuda.
“Ikou[2]”, ujar Hokuto pada gadis di sebelahnya.
Mengangguk, Haruka segera pun segera melangkahkan kakinya. Meninggalkan taman yang dipenuhi bunga sakura tersebut bersamaan dengan debar jantung yang sempat memenuhi dirinya ketika tangan sang pemuda bertemu dengan kulitnya.

Hari telah mulai gelap ketika shooting pada hari itu, yang sekaligus menjadi pengambilan gambar terakhir drama Shiritsu Bakaleya Kokou, berakhir. Tampak beberapa staf sibuk membereskan properti yang masih terpasang, sedang sebagian lainnya tampak asyik berfoto dengan dengan para pemain sebagai kenang-kenangan.
Haruka baru saja selesai berbincang dengan para staf yang selama ini telah membantunya dan beranjak menuju ruang ganti ketika Hokuto menghampirinya.
“Besok... Apa kau ada waktu kosong?”, tanya Hokuto setelah sebelumnya cukup lama memberanikan diri.
“Eng... Setelah makan siang sepertinya jadwalku kosong hingga malam. Memangnya ada apa?”
“Kau... mau pergi denganku ke taman bermain?”
Membelalakkan matanya, Haruka pada awalnya tidak bisa mempercayai telinganya sendiri. Pasalnya, pemuda yang diam-diam disukainya itu seakan bisa membaca pikirannya dengan mengajaknya pergi. Jantung gadis itu kembali berdebar lebih dari biasanya dan merasakan perutnya seakan dipenuhi oleh kupu-kupu. Menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, Haruka mengangguk pelan untuk menjawab ajakan Hokuto.
Kelegaan tergambar jelas di wajah pemuda yang memiliki golongan darah B tersebut. “Kalau begitu, besok jam dua di depan pintu gerbang selatan?”
Mengangguk mantap, kali ini Haruka memberanikan dirinya untuk menatap langsung pemuda di hadapannya.
“Jaa, mata ashita[3]”, ujar Hokuto sebelum berjalan meninggalkan Haruka.
“Un, mata” Menatap kepergian sang pemuda, Haruka merasakan wajahnya semakin memanas ketika memperhatikan tubuh Hokuto yang terlihat begitu tegap. Membuat gadis berambut sebahu itu ingin menyenderkan tubuhnya pada punggung lapang sang pemuda. Menepuk-nepuk pipinya sendiri, Haruka berusaha menepis khayalnya dan bergegas menuju ruang ganti.

*****

Waktu telah menunjukkan pukul dua lewat sepuluh menit ketika Haruka berlari menghampiri Hokuto yang telah menunggunya beberapa menit sebelum waktu yang dijanjikan.
“Gomen[4] aku terlambat. Pemotretannya lebih lama dari yang kuduga”, gadis itu tampak terengah sesampainya ia di hadapan Hokuto.
“Daijoubu[5], aku juga baru datang kok”, pemuda itu tersenyum memaklumi. “Saa, ikou ka?”
Mereka berdua berjalan berdampingan memasuki gerbang taman bermain yang tidak begitu ramai hari itu. Sebenarnya tindakan mereka ini termasuk nekat kalau tidak mau dibilang cari masalah. Walau keduanya telah mengenakan topi dan kacamata, tapi itu bukan berarti tidak akan ada yang mengenali mereka berdua. Kalau mereka sampai tertangkap kamera saat jalan berdua seperti itu, pasti beritanya akan langsung menyebar kemana-mana. Diskors atau bahkan kehilangan nama dan dikeluarkan dari agensi, walau tahu akan konsekuensinya, tapi keduanya tetap saling memenuhi janji untuk bertemu. Hanya sekali ini saja, begitu pikir mereka. Hanya sekali ini saja...
Di taman itu, mereka berdua bermain dengan bebas layaknya pasangan kekasih pada umumya. Roller coaster, Merry-go-round hingga labirin raksasa telah mereka masuki dengan diselingi cerita dan tawa yang seakan tiada habisnya. Hal sederhana yang begitu sulit mereka dapatkan karena tuntutan dalam menjalani dunia hiburan yang telah mereka pilih. Keduanya berusaha menikmati setiap detik kebersamaan mereka yang tidak akan bisa berlangsung lama tersebut.
Lelah bermain, keduanya kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan sambil menikmati crêpe yang baru saja mereka beli.
“Ada krim yang menempel di pipimu”, ujar Hokuto ketika Haruka telah menghabiskan crêpe miliknya hingga setengahnya.
“Eh? Dimana?”, tanya gadis kelahiran bulan Maret itu sambil berusaha membersihkan pipinya.
Melihat usaha gadis itu tak berhasil, Hokuto tersenyum seraya mengulurkan tangannya. “Disini”, ujarnya sambil membersihkan krim yang menempel di pipi Haruka. Waktu seakan terhenti ketika kulit mereka saling bersentuhan, terlebih saat ibu jari Hokuto tak sengaja mengenai sudut bibir sang gadis.
Beberapa saat kemudian kesadaran mereka kembali tertarik ke dunia nyata. Menyadari apa yang baru saja terjadi, semburat merah langsung menghiasi wajah mereka berdua dan sontak saling menjauhkan diri, memutus kontak tubuh yang sempat terjalin. Hening menemani langkah Hokuto dan Haruka yang berjalan tanpa arah. Tidak ada satu pun dari mereka yang kembali berbicara, sampai pada akhirnya mereka tiba di sisi taman bermain yang langsung menghadap ke laut.
“Kirei...”, desah Haruka ketika melihat pemandangan di depannya.
Saat itu matahari mulai menghilang di balik perbatasan horizon. Lembayung mendominasi langit yang biasanya selalu nampak biru. Laut yang memantulkan cahaya sang surya tampak berkilauan layaknya hamparan emas. Aroma air laut yang terhempas membaur dengan aroma manis angin musim semi yang berhembus lembut hingga menciptakan rasa tersendiri.
Diantara hening yang kembali menyapa, Hokuto terus memperhatikan Haruka yang kini tengah berdiri memunggunginya. Berbagai rasa berkecamuk dalam dada pemuda tersebut. Rasa senang karena akhirnya bisa menghabiskan waktu berdua dengan gadis pujaannya; sedih karena takkan bisa mengulang saat seperti ini lagi; bimbang apakah ia harus mengutarakan perasaannya atau tidak. Semua rasa itu bercampur menjadi satu hingga terasa begitu menyesakkan.
Pemuda itu menarik napasnya dalam-dalam dan berusaha menenangkan gemuruh dalam dadanya. Menetapkan keputusannya, Hokuto mengepalkan tangannya kuat-kuat dan menyingkirkan sekat yang mengganjal tenggorokannya. “Boku wa-“
“Atashi wa ne”, Haruka memotong ucapan Hokuto. Masih terus menatap laut dihadapannya, Haruka memilih untuk tidak menatap sang pemuda. “Selama ini, aku tidak pernah serius menanggapi perasaan laki-laki yang berusaha mendekatiku dan menyatakan perasaannya. Tidak juga tertarik pada sesuatu yang orang katakan sebagai ‘cinta’, tapi setelah bertemu denganmu, walau hanya dalam waktu yang begitu singkat, aku kemudian mengerti kenapa banyak orang bersikeras untuk memperjuangkannya. Hanya dengan melihatmu, memperhatikanmu, untuk pertama kalinya, akhirnya aku tahu seperti apa rasanya jatuh cinta”
“Haruka...”, desah Hokuto begitu pelannya hingga hampir berbisik.
“Demo, atashitachi wa muri da yo ne”, samar-samar Hokuto bisa mendengar gadis di hadapannya terisak. “Kau juga pasti mengerti kan? Cinta atau impian, kita hanya bisa memilih salah satu diantaranya. Ironis ya”, Haruka tampak begitu memaksakan diri untuk tersenyum.
Tak bisa lagi menahan diri, Hokuto kemudian melingkarkan tangannya ke tubuh mungil Haruka. Mendekapnya begitu erat seakan tak ada lagi hari esok.
“Ho- Hokuto-kun?”, gadis itu tampak begitu terkejut atas tindakan Hokuto yang begitu tiba-tiba.
“Sebentar saja...”, ucapnya tepat di telinga sang gadis. “Biarkan seperti ini sebentar saja”
Tak bisa mengeluarkan suaranya, Haruka hanya bisa memejamkan matanya. Mendengarkan suara detak jantung sang pemuda yang samar-samar sampai pada telinganya. Merasakan setiap kehangatan yang tersalur kala tubuh keduanya saling bersentuhan. Membiarkan sekali lagi waktu terhenti dan bercumbu dengan keheningan.

*****

“Kau yakin sampai di sini saja?”, tanya Hokuto ketika Haruka mengatakan bahwa ia cukup diantarkan sampai depan stasiun saja.
“Un”, gadis itu mengangguk.
“Jaa, kiotsukete[6]”
Tersenyum, Haruku menatap mata Hokuto lekat-lekat untuk terakhir kalinya. “Sayounara[7]”, ujarnya sambil berbalik pergi. Meninggalkan Hokuto yang tetap bergeming di tempatnya.

Menatap ke arah luar jendela bis yang ditumpanginya malam itu, berbagai ingatan tentang Haruka memenuhi kepala Hokuto. Senyumnya, tawanya, suaranya, hangat tubuhnya. Ingin rasanya selalu berada di sisi gadis itu; menemaninya disaat sepi menghampiri; menjaganya dari semua yang akan mencelakainya; menjadi satu-satunya tempat baginya untuk bersandar.
Pemuda kelahiran Shizuoka itu tersenyum kecut. Baru sekali ini dalam hidupnya ia begitu ingin meninggalkan impiannya dan menjemput cintanya. Baru kali ini, ia begitu menginginkan seorang gadis berada di sampinya. Bagaikan kelkatu[8] yang hendak terbang ke langit luas[9], apa yang diinginkan pemuda itu selamanya akan tetap menjadi asa. Dan bersamaan dengan deru mesin yang meninggalkan jejak pada malam, Hokuto berusaha melupakan cinta pertamanya yang takkan pernah terwujud.


[1] Indah ya
[2] Ayo
[3] Kalau begitu, sampai besok
[4] Maaf
[5] Tidak apa-apa
[6] Hati-hati di jalan
[7] Selamat tinggal
[8] Semacam laron
[9] Peribahasa, artinya: mengharapkan sesuatu yang mustahil untuk didapatkan




:: JPOP Indonesia ::

Posting Komentar untuk "[Fan Fiction] When First Love End"