[Fan Fiction] JINGGA
Author : Bethari Berlianti - BETH [ @beth91191 / http://facebook.com/bethari.berlianti ]
Genre : Romance
Rate : Teen
Length : One Shot
Cast : Ryo Nishikido, Yuko Oshima, Yamashita Tomohisa, Junpei Mizobata (as Ryo's brother : Junpei Nishikido)
Disclaimer : This story originally from my own imagination. I don’t own any character of this fanfiction. They belong to God and themselves. I don’t make money from this fanfiction, I made this just for this contest, please don’t sue me. I was happy to pour all my imagination into fanfiction. Don’t forget to give your appreciation to my fanfiction and don’t copy without permission. Happy Reading ^^
==START STORY==
(Yuko POV)
Senja menggelanyut sendu menggantung manis. Awan putih berpadu langit yang biru, tampak mempesona kala jingga menunjukan salam perpisahan. Malu-malu Sang Mentari meninggalkan rona kemerahannya. Hendak kembali keperaduan, kalah bersaing dengan rembulan. Burung-burung berkicau bergerombol. Angin bertiup sepoi-sepoi. Bagai seni senderatari yang diajarkan Sang Alam.Terduduk aku di rerumputan di tepi danau Biwa yang begitu bening dan tampak tak berujung. Gemericik air dan harum-harum musim semi membuat suasana kian damai.
Seharusnya aku tak pernah bisa merasakan keindahan dunia ini. Seharusnya aku tak pernah bisa melihat ketenteraman sudut Jepang ini. Aku Yuko Oshima pernah mengalami kebutaan sejak berumur lima tahun akibat kecelakaan mobil. Sebenarnya luka-luka yang kuderita tidaklah parah. Namun pecahan kaca telah merusak kornea ku dan akupun menjadi buta, sampai suatu saat aku melakukan transplantasi donor kornea. Seharusnya seorang anak kecil yang mengalami kebutaan di usia sebegitu muda, tak akan mampu mengalami mimpi seperti mimpi orang kebanyakan, melainkan mimpinya hanyalah gelap dan tak bewarna. Tapi pengecualian untukku. Aku sering memimpikan wajahnya jauh sebelum aku mengenalnya.
==FLASH BACK==
(Yuko POV)
221.. 222.. 223.. 224.. 225...
Tibalah aku di depan Tokyo Hospital. Seperti biasa aku akan menghitung berapa jumlah langkah yang harus aku tempuh dari halte. Tepat 225 langkah ke arah utara, maka dapat sampailah aku kemari.
Aku merasa sangat bahagia hari ini. Hari yang kutunggu-tunggu telah tiba. Dokter Junpei menghubungiku dan mengabarkan bahwa nomer antrian ku telah tiba. Aku diminta datang hari ini untuk melakukan check up mata pra-operasi transplantasi kornea. Aku sudah menunggu bertahun-tahun lamanya. Sekarang tinggalah aku menanti seseorang yang ikhlas mendonorkan korneanya setelah ia meninggal. Jahat memang rasanya aku mengharap-harap seseorang segera meninggal. Tapi sungguh bukan itu maksudku. Meninggalkan atau ditinggalkan oleh orang tersayang adalah hal yang sangat menyakitkan. Aku mengerti hal itu, walau aku belum pernah mengalaminya. Tapi bukankah kematian adalah takdir? Dan kebutaanku ini juga adalah takdir? Lalu jika suatu hari nanti aku menerima donor kornea dari seseorang yang telah meninggal,juga lah sebuah takdir? Aku hanya bisa berdoa siapapun kelak menjadi pendonorku, dia akan bahagia di surga sana, atas kebaikannya itu.
-oOo-
(Yuko POV)
Ku ketuk pintu ruangan Dokter Junpei.
Tok..tok..tok..
Tak ada jawaban dari dalam? Dimana Dokter Junpei?
"Yuko." Panggil seseorang padaku. Sepertinya aku mengenali suaranya.
"Perawat Hana?" Tanyaku memastikan.
"Iya, saya. Gomen, Dokter Junpei sedang rapat staf dadakan sepuluh menit yang lalu. Satu jam lagi beliau baru kembali ke ruangannya."Jelasnya.
"Ohh.. Baiklah kalau begitu.." Sahutku lesu tak mampu menutupi kekecewaan.
Akupun melangkah mengayun-ayunkan tongkatku menepuk lantai. Beginilah orang buta sepertiku jika hendak berjalan. Tanpa tongkat ini, bisa-bisa aku menabrak sesuatu dan terjatuh. Aku berjalan mengikuti pengalaman ku bekerja sosial menjaga bayi yang dirawat di Rumah Sakit ini. Terdengar suara anak-anak berlari-lari sambil berteriak-teriak. Sepertinya aku tahu dimana ini. Kulangkahkan kakiku meraba jalan. Selangkah demi selangkah aku menapak. Bisa kurasakan empuk-empuk rerumputan terasa nyaman di bawah sana. Aku terus berjalan,hingga tiba-tiba..
"Hati-hati kak.. " Seru beberapa anak kecil yang membuatku terkejut. Belum sempat aku berpikir apa maksud dari kata-kata itu, dan.. DUKKK...
"Ahh.." Seruku pelan sambil pasrah menjatuhkan diri ke tanah.
"Kalian, main bola hati-hati!" Suara pria setengah berteriak.
Geruduk..geruduk.. Bisa kudengar langkah kaki beberapa orang berlari ke arahku.
"Nona.. Kau baik-baik saja?" Tanya pria itu padaku.
"Kakak baik-baik saja?" Tanya beberapa anak kecil bersahutan. Aku berusaha mendudukan tubuhku sambil memegang kepalaku yang terasa sedikit pening.
"Nona.. Kau baik-baik saja?" Diulanginya pertanyaannya."Apa perlu kita check ke klinik?" Tanyanya khawatir.
"Mmm.. Daijyoubu, aku baik-baik saja." Sahutku sambil berusaha mencari-cari tongkatku. Mana tongkatku? Kucari-cari di sekitarku.
Namun kemudian,"Ini tongkatmu. Mari aku bantu berdiri." Ucapnya sambil meletakan tongkatku di tanganku dan membopong tubuhku berdiri.
"Arigatou gozaimasu." Ucapku padanya.
"Daijyoubu. Kalian lihat. Karena tidak hati-hati main bolanya, kakak ini jadi jatuh kan." Ucapnya pada mereka.
"Sudahlah.. “ Sahutku menenangkan.
"Ayo cepat kalian minta maaf padanya." Perintah pria itu.
"Gomen-nasai ya kak.." Kata mereka bersama-sama.
"Iya, kakak maafkan. Sudahlah kalian kembali bermain sana." Jawabku sambil tersenyum. Aku bisa membayangkan tampang mereka pasti lucu. Andai aku bisa melihat.
Kini tinggalah aku dan pria yang menolongku ini.
"Arigatou gozaimasu sekali lagi tuan..." Seruku terputus.
"Yamashita Tomohisa. Panggil saja Yamashita." Jawabnya.
"Arigatou Yamashita.." Ucapku lagi.
"Mungkin kau ingin duduk di bangku taman?" Tawarnya balik padaku.
"Tentu, aku kemari memang ingin duduk untuk menunggu Dokter Junpei selesai rapat." Jawabku.
"Mari kalau begitu kita duduk." Ajaknya padaku sambil langsung meraih tanganku.
Aku terkejut dibuatnya. Tapi tak ada alasan bagiku untuk menolak genggaman tangannya. Tangannya terasa begitu nyaman dan hangat. Jari-jarinya ramping namun tetap terkesan maskulin. Mungkin tangan ini tercipta memang untuk menggenggam tangan orang lain, melindungi dengan kelembutan.Dia membimbingku berjalan menuju bangku taman dan terduduklah kami disana. Saat aku sudah terduduk nyaman, barulah dia melepaskan tangan itu. Jujur aku merasa aneh dengan suasana yang timbul saat itu. Sempat selama beberapa saat kami terdiam satu sama lain, tak saling berucap.
"Kau kemari sendirian?" Tanyanya membuka percakapan.
"Iya." Jawabku cepat.
"Untuk bertemu Dokter Junpei?" Tanyanya lagi.
"Iya." Sahutku pendek.
"Aku melihatnya masuk ke ruangan rapat tadi. Ada perlu apa?" Tanyanya padaku.
"Kau mengenalnya?" Tanyaku balik belum menjawab pertanyaannya.
"Aku cukup kenal dengan beberapa dokter disini." Jawabnya.
"Kenal? Kau dokter disini?" Seruku menebak.
"Dokter?" Tanyanya.
"Iya.. Kau dokter disini?" Tanyaku lagi.
"Mmmmm..." Jawabnya belum selesai.
"Kau pasti dokter. Mana mungkin tidak. Aneh sekali pertanyaanku. Memangnya kau dokter apa?" Tanyaku penasaran.
"Dokter apa?" ucapnya tak langsung menjawab.
"Iya dokter apa?" Kuulangi pertanyaanku.
"Jantung?" Jawabnya lirih.
"Wahhh.. Keren.. Dokter Yamashita, perkenalkan aku Yuko Oshima. Yoroshiku onegaishimasu." Ucapku sambil tersenyum.
"Yoroshiku ne." Jawabnya ramah.
Aku selalu terkesan dengan pekerjaan dokter. Mereka pintar, baik dan selalu membantu orang lain. Pekerjaan mereka mulia walau tak mudah. Menjaga yang sehat jangan samapi sakit dan yang sakit jangan sampai meninggal, sungguh tidaklah mudah.
"Kalau begitu, aku berobat ke Dokter Yamashita dapat diskon ya?" Celetukku bercanda. Namun sedetik dua detik kemudian aku tersadar, bahwa kata-kataku itu benar-benar bodoh dan menggelikan. Aduhhh.. Aku malu sekali.. Aku yakin wajahku pasti memerah seperti kepiting rebus. Walau aku tak mengerti apa maksudnya, tapi orang-orang yang menyadari aku malu pasti bicara seperti itu.
"Diskon?? Hahaha.." Ucapnya diikuti tawa lepasnya. Aku benar-benar malu dan tak berani mengangkat wajah. Kusembunyikan wajahku ini dengan menunduk-nundukannya, berharap dia tak menyadarinya.
"Gomen-nasai." Ucapku lirih.
"Hahaha.. Maaf untuk apa?" Tanya nya sambil menghentikan tawa sejenak.
"Aku telah bicara tidak sopan. Seharusnya aku tidak boleh bicara seperti itu. Gomen." jawabku sambil berusaha mengubur rasa malu yang sudah terlanjur muncul ini dalam-dalam.
"Hahaha... Kau tak perlu merasa sungkan padaku. Dan kau tahu," ucapnya kembali berhenti tertawa.
"Apa?" Tanyaku lirih.
"Kau tampak begitu memerah saat malu, seperti langit yang memerah kala senja. Begitu indah." Ucapnya serius dengan suara berat dan tak ada lagi tawa terdengar darinya.
Apa? Dia bicara apa barusan? Aku tak mengerti dengan kata terakhir dari kalimatnya. Atau mungkin memang aku yang tak ingin mengerti. Orang sepertiku yang bukan siapa-siapa ini tak berani berangan tinggi. Apalagi dia adalah dokter yang pastilah kaya dan baik hati. Mana mungkin dia ada rasa padaku yang cacat ini.
Ahh... Apa yang barusan kupikirkan. Aku tak boleh berangan-angan. Aku terlalu takut berangan. Karena kalau sampai terjatuh pasti sakit sekali rasanya. Tak mau aku jadi pungguk yang merindukan bulan. Biarkan pungguk tetap menginjak tanah seperti sedia kala. Tiba-tiba suasana begitu mencanggungkan di antara kita. Kami kembali membisu satu sama lain. Ini semua gara-gara aku. Andai aku tak berbicara aneh.
"Tak apa aku memberimu diskon. Asal kau membawakan ramen." Ucapnya kembali membuka pembicaraan.
"Ramen?" Tanyaku bingung.
"Aku suka sekali ramen. Tapi tak ada yang mau membawakannya untukku ke rumah sakit. Dan aku tak ada waktu keluar rumah sakit. Jadilah aku hanya bisa menahan liur saat melihat iklan ramen di tv. Haha.. Aku bercanda. Abaikan.." Ucapnya yang langsung bisa memecah kebekuan.
"Baiklah. Lain kali akan aku bawakan ramen buatanku yang terkenal kelezatannya." Ucapku sempat terlupa pada apa yang telah terjadi.
"Benarkah? Wah.. Aku ingin sekali. Aku tunggu ramen buatan mu, ne?" Serunya.
"Baiklah.." Jawabku cepat.
Sejak saat itu aku sering mengobrol dengannya, saat aku melakukan persiapan operasi dengan Dokter Junpei, ataupun saat aku melakukan kerja sosialku. Aku telah bercerita banyak hal padanya. Mulai dari penyebab kebutaanku. Bagaimana aku menjalani hidupku yang penuh kegelapan ini. Pekerjaanku sebagai barista di sebuah kedai kopi dan banyak lainnya. Akupun selalu membawakan ramen kesukaannya itu. Tak bermaksud aku apa-apa. Aku hanya ingin membantunya yang begitu ingin makan ramen namun terlalu sibuk hingga tak sempat mengunjungi kedai ramen. Aku begitu merasa nyaman saat berbicara dengannya. Dia selalu menjadi pendengar yang baik dan pemberi saran yang bijak menurutku. Dia selalu bisa membuat suasana menjadi hangat. Kepribadiannya pun juga sangat baik. Aku bisa membayangkan wajahnya pasti tampan. Walau aku tak mengerti arti tampan itu apa, yang jelas dia sempurna bagiku. Sepertinya aku menyukainya.
-oOo-
(Yuko POV)
Suatu hari..
"Apa dok?" Seruku terkejut.
"Keluarga pasien ini menginginkan anaknya untuk segera dioperasi transplan kornea. Karena dia harus masuk ke sekolah penerbangan. Aku sudah menjelaskan bahwa kita harus menuruti antrian. Tapi dia tetap saja memaksa. Aku katakan padanya, sebenarnya tidak masalah, asal semua yang dia lewati antriannya, setuju." Jelas Dokter Junpei padaku.
"Begitu kah?" Tanyaku sedih.
"Kebetulan pihak rumah sakit sudah menghubungi semua pasien, dan mereka setuju-setuju saja. Lalu bagaimana denganmu Yuko?" Tanya Dokter padaku.
Kuhembuskan nafas panjang, "Mmmm... Tak apa dok. Hanya tertunda sementara operasiku ini kan? Dia lebih butuh segera melihat dibandingkan aku. Silakan saja dok." Jawabku pasrah sambil tersenyum masam.
"Kau baik sekali Yuko. Tenanglah, setelah operasi anak ini nanti sore, segera kucarikan donor mata untukmu ke rumah sakit lain." Ucap Dokter Junpei membesarkan hatiku.
"Iya Dokter. Kalau begitu saya pamit dulu. " Ucapku sambil memberinya salam dan beranjak pergi.
Aku berjalan melewati lorong rumah sakit dengan langkah berat. Aku sudah mengantri bertahun-tahun dan saat hari dimana aku akan dapat menerima donor kornea, ada saja hal yang mengurungkan hal itu terjadi. Sabar Yuko.. Sabar.. Mungkin aku masih belum siap saja untuk melihat saat ini. Tapi Dokter Junpei berjanji untuk segera mencarikan aku donor kornea. Aku berjalan terhuyung-huyung menuju taman rumah sakit dan terduduklah aku di bangku. Berkali-kali kuhembuskan nafas dalam-dalam. Aku sedih tapi aku tak boleh egois, aku ingin segera bisa melihat tapi aku harus membantu anak itu. Aku tak tahu perasaanku saat ini seperti apa, semua terasa berkecamuk di dadaku.
Yamashita mana? Aku membutuhkannya saat ini. Aku yakin dia bisa memberi kata-kata bijaknya lagi kali ini. Aku yakin dia bisa menghibur kegundahanku dan membuatku merasa lebih baik. Mana dia? Mana?? Aku terus menunggu dan menunggu kedatangannya. Apa dia sibuk? Maka dari itu dia tak ada waktu kemari menemuiku.
Aku tak sanggup lagi menahan gejolak di hati ini. Air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk mataku, akhirnya jatuh juga membasahi pipiku. Disaat seperti ini, disaat aku membutuhkannya, dia tak ada di sisiku. Seharusnya sejak awal aku sadar dia hanya menganggapku pasien biasa seperti pasien lainnya. Tak mungkin dia menganggapku lebih. Dia yang begitu sempurna tak mungkin melirikku yang jauh dari kata sempurna. Wajar saja dia lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan menghabiskan waktu bersamaku.
Aku terus menangis di taman rumah sakit yang sudah mulai sepi ini. Hari mulai menjemput malam. Tak banyak orang yang berkeliaran di taman ini. Hanya burung-burung berkicauan di langit dan angin lembut yang menemaniku. Maka biarkanlah aku menumpahkan perasaanku ini. Hatiku benar-benar sedih saat ini bukan hanya karena operasi transplanku yang tertunda, tapi juga karena aku baru menyadari bahwa aku memang sangat bodoh telah mengharapkan cintanya. Biarlah.. Biarlah aku menangis. Ijinkan aku menumpahkan perasaanku ini. Walau sesungguhnya aku masih berharap dia berada disisiku saat ini.
...
(Yamashita POV)
Andai kau tau, aku disebelahmu Yuko..
Aku sudah duduk disini, sejak sebelum kau datang. Aku tahu apa yang terjadi. Aku sempat diberitahu Junpei tentang operasi transplan korneamu yang tertunda. Aku yakin kau pasti merasa sedih dan hancur saat ini. Aku ingin menghiburmu, menenangkanmu, bahkan memelukmu. Tapi akan sangat egois bagimu kalau aku terus mendekatimu.
Aku menyayangimu Yuko. Aku mencintaimu. Sangat. Sejak kau baru menjadi pekerja sosial aku sudah memandangi sosokmu dari kejauhan, dan saat itu juga aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan karena paras cantikmu saja, tapi karena kepribadian indahmu. Kau cantik luar dalam, Yuko. Aku mencintaimu hingga hampir gila. Tapi aku tak boleh egois. Aku tak bisa terus membiarkan perasaan itu tumbuh dihatimu seperti apa yang sudah terlanjur tumbuh dihatiku, bahkan perasaan itu sudah mengakar menghujam kedasar hatiku. Gomen-nasai, Yuko. Gomen-nasai. Kau pasti akan mengira aku jahat dan tak peduli lagi padamu. Kau pasti sakit hati karena aku tiba-tiba menghilang dari kehidupanmu. Tapi percayalah itu lebih baik dari pada rasa sakit yang bisa timbul disaat semuanya begitu terlambat. Aku bukan pria sebaik yang kau kira Yuko. Aku tak pantas untukmu.
Kulihat air matanya berlinang jatuh membasahi pipi meronanya. Hatiku sakit. Benar-benar sakit. Sakit yang kurasakan benar-benar mempilukan. Begitu sakit hingga dadaku terasa sangat sesak. Tak ada yang bisa kulakukan. Terdiam aku seribu bahasa. Dia terus menangis dengan Sang Senja menghias di depan sana. Jangan menangis Senja-ku. Aku tahu ada kalanya malam akan datang. Namun matahari sudah berjanji untuk datang esok hari. Tenanglah Yuko, aku berjanji, kau akan dapat segera melihat dan kau akan bahagia.
-oOo-
(Yuko POV)
Hari ini aku kembali datang ke rumah sakit. Bukan karena aku ada janji dengan Dokter Junpei atau untuk kerja sosial. Tak ada alasan lain untukku pergi kemari selain untuk menemui Yamashita. Ditanganku sebuah kotak makanan berisi ramen, kupegang erat. Dia pasti senang melihatku membawa ramen. Aku harap dia muncul hari ini. Aku menunggu dari pagi hingga hampir petang. Tapi dia tak juga datang. Aku menyerah untuk hari ini. Akupun memutuskan untuk pulang dan kembali esok hari.
Aku terus seperti ini selama beberapa hari. Mana dia? Mana? Kenapa dia tiba-tiba pergi seperti ini? Apa aku perlu bertanya ke pihak rumah sakit? Apa aku perlu meminta perawat atau siapa memanggilkannya? Lalu kalau dia kemari, aku mau apa? Aneh rasanya jika dia memang sengaja menghindariku tapi aku justru memintanya menemuiku. Aku harus bagaimana? Sarannya lah yang selalu paling bijak. Namun kini aku justru tak bisa bertemu dengan Si Pemberi Saran.
Setiap hari beginilah yang selalu aku lakukan. Berangkat dengan penuh harapan, dan pulang dengan kekecewaan mendalam. Aku tak kunjung juga bertemu dengannya.
-oOo-
(Yuko POV)
Aku tengah berada di suatu tempat yang asing bagiku. Aku tak tahu ini dimana? Tapi terdengar suara deburan ombak dari kejauhan. Kakiku menyandung-nyandung sesuatu yang terasa begitu lembut dan dingin. Suara burung-burung berkicau di langit. Angin bertiup halus dan menyejukan.
Apa ini namanya pasir?
Apa itu yang namanya ombak?
Apakah yang terbang kesana kemari itu disebut burung?
Jadi apakah ini di pantai? Indah. Indah sekali.
Pasti sesuatu yang bercahaya di ufuk barat itu yang disebut matahari.
"Yuko.." Panggil seorang pria padaku.
Aku menoleh ke arahnya. Kudapati sesosok pria yang selama ini selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Namun mengapa, entah sejak kapan, aku tak pernah lagi memimpikannya. Lalu kenapa saat ini dia tiba-tiba berdiri di hadapanku?
“Kau siapa?" Tanyaku padanya.
Dia tak menjawab, hanya tersenyum lembut padaku. Tetap seperti itulah senyumannya, senyumannya yang dulu, tak berubah sedikitpun. Mata indahnya, wajah menawannya dan senyuman tulusnya, dia benar-benar nyata.
"Mmmm.. Kau siapa?" Tanyaku lagi.
Dia tetap saja diam tak menjawab. Namun terlihat dia mengangkat tangan kanannya sembari jari telunjuk mengarah pada hamparan langit di kejauhan sana. Kulemparkan pandanganku pada apa yang dia tunjuk. Langit yang indah. Aku tak pernah tahu selama ini apa arti indah. Tapi sekali melihatnya aku langsung tahu, ini benar-benar indah.
Pasti ini yang sering disebut Yamashita sebagai jingga.
Tunggu.. Jingga?
Yamashita??
Aku kembali menoleh ke arah pria itu. Namun yang kudapati samar-sama ia menghilang dengan sangat perlahan. Dia terus tersenyum padaku. Tapi tunggu.. Tunggu.. Aku belum sempat mengetahui namamu. Siapa sebenarnya kamu? Siapa??
...
DEG!!
Aku tersentak, terbangun. Hanya gelap dan hitam yang kudapati. Ternyata aku bermimpi, mimpi yang sangat indah. Apakah suatu saat nanti jika aku bisa melihat, hal seindah itukah yang muncul dalam penglihatanku? Kalau begitu aku harus segera bisa melihat, aku ingin melihat betapa indahnya dunia ini. Aku ingin melihat langit dan pantai seperti yang ada di mimpiku. Aku juga ingin melihat wajah ....
Kring.. Kring.. Kring...
Teleponku berbunyi. Kuraba-raba meja yang berada di sebelah tempat tidurku. Kuraih gagang teleponku dan kutekan tombol yang biasa kutekan saat mengangkat telepon.
"Moshi..moshi.." Salamku.
"Yuko? Aku Dokter Junpei." Sahut seseorang di seberang sana.
"Dokter?" Tanyaku bingung sambil menekan tombol jam mejaku.
'Pukul satu A.M.' Bunyi jam itu.
"Gomen aku meneleponmu lewat tengah malam." Sahutnya.
"Iya, ada apa dok?" Tanyaku lagi.
"Ada donor kornea untukmu. Bisakah pagi ini kita lakukan operasi transplantasinya?" Tanyanya yang membuatku terkejut tak percaya.
Benarkah akhirnya ada donor kornea untukku? Benarkah ini nyata? Benarkah aku akan dapat segera melihat?
"Yuko, istrirahat lah cukup. Pukul 10 pagi ini, datanglah ke rumah sakit. Selamat malam." Ucap dokter Junpei sambil memutuskan teleponnya.
Ya Tuhan.. Terima kasih Tuhan. Penantianku bertahun-tahun berakhir juga. Pagi ini aku akan menjalani operasi transplantasi kornea. Aku akan segera bisa melihat.
-oOo-
(Yuko POV)
Keesokan paginya..
Aku tengah berbaring di atas meja operasi. Ketakutan dan kegelisahan berkecamuk di hatiku. Apakah di operasi akan terasa sakit? Tapi aku harus melawan perasaan ini. Aku harus berani. Rasa takut ini tak ada apa-apanya dibanding peraaan bahagia yang akan kurasakan jika operasi ini sukses. Keluarga dan teman-temanku banyak berpesan.
'Semangat Yuko!'
'Kau jangan takut. Tenanglah ini hanya operasi kecil.'
'Kau akan dapat segera melihat kembali.'
'Kau akan tertidur sementara dan saat terbangun, kau sudah bisa melihat dunia.'
'Berjuanglah!'
...
"Bagaimana Yuko? Kau siap?" Ucap dokter memastikan aku siap,"Mari kita lakukan saat ini juga. Tenang dan tidurlah.." Ucapnya lagi sesaat sebelum aku sedikit demi sedikit tak sadarkan diri.
-oOo-
(Yuko POV)
Sebulan kemudian..
Kata Dokter Junpei ini merupakan check up pasca operasi terakhirku, jika kali ini hasilnya baik-baik saja, maka operasiku bisa dikatakan 100 persen sukses dan aku tak perlu lagi melakukan check up ke rumah sakit. Beberapa tes dan pemeriksaan aku lakukan.
"Bagaimana, dok?" Tanyaku sambil duduk di kursi pasien di hadapannya.
"Sangat baik. Menurutku jarang ada pasien yang bisa begitu cocok dan mudah beradaptasi dengan donor korneanya." Jawabnya.
"Benarkah?" Tanyaku lagi.
"Selamat Yuko Oshima, kau benar-benar telah menjadi seseorang yang bisa melihat." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku. Betapa senangnya aku mendengar perkataannya.
"Arigatou gozaimasu Dokter." Tak henti-hentinya aku mengucapkan terima kasih sambil menjabat tangannya dan sedikit menundukan kepalaku.
"Kau pasti bosan bertemu denganku terus beberapa bulan ini." Sahutnya yang membuatku geli.
"Bagaimana bisa bosan, dok? Tanpa dokter mana mungkin aku bisa melihat. Dokter bercanda." Aku tertawa kecil dibuatnya.
"Hahaha.." Dia ikut tertawa lepas dan tersenyum padaku. Tawa dan senyumnya begitu tulus, ramah dan hangat. Melihatnya wajahnya terasa begitu nyaman dan meneduhkan. Aku benar-benar mengaggapnya seperti kakakku.
...
Beberapa saat kemudian..
Aku dan Dokter Junpei berdiri di depan ruangannya. Aku hendak pamit untuk pulang. Akan ada makan malam spesial bersama orang tua ku untuk merayakan operasi transplantasiku yang telah berhasil ini.
"Kau akan pulang setelah ini?" Tanya Dokter Junpei.
"Iya,dok. Akan ada perayaan kecil-kecilan di rumah. Dokter mau bergabung? Ibu pasti senang sekali kalau Dokter mau hadir. Itu kalau dokter tidak masalah jika harus mendengar dongengan ayah." Jawabku sambil tersenyum malu.
Dia membalas senyumku sekilas. Dilihatnya jam tangannya sendiri.
"Mmmm.. Malam ini?" Tanyanya balik.
"Iya. Kenapa? Dokter sibuk?" Tanyaku lagi.
"Tidak. Tapi... Mmmm.. Akan aku usahakan datang. Tapi mungkin sekitar pukul 7 atau 8, tidak masalah?" Tanyanya padaku.
"Tentu tidak masalah, dok. Baiklah kalau begitu, saya pamit pulang. Buru-buru harus mengambil pesanan kue. Permisi dok." Ucapku sambil berbalik dan berjalan hendak meninggalkannya.
Selangkah.. Dua langkah.. Tiga langkah.. Aku berjalan meninggalkan Dokter Junpei tiba-tiba kudengar, "Dokter Yamashita.." Seru Dokter Junpei yang membuatku terkejut.
Yamashita?? Dia disini? Di rumah sakit ini?
Selama ini dia ada di rumah sakit ini tapi tak pernah menemuiku? Dia seenaknya menghilang begitu saja dari hidupku. Dia pikir dia siapa bisa bersikap seperti itu padaku. Dia pikir aku tak punya hati seperti dirinya. Dia pikir ditinggalkan tanpa alasan yang jelas dan tiba-tiba seperti itu tidak menyakitkan?
Segera aku berbalik. Kudapati seorang pria berdiri di hadapan Dokter Junpei namun memunggungiku. Kumelangkah perlahan mendekati mereka. Hatiku sudah berdebar bukan main. Semarah-marahnya aku padanya, aku tetap begitu penasaran bagaimana wajah pria jahat ini. Ingin sekali aku memakinya, pria kurang ajar yang telah membuatku jatuh cinta padanya dan kemudian menghilang.
"Yamashita.." Ucapku serak. Dokter Junpei menyadari kehadiranku di belakang mereka.
"Yuko? Ada apa?" Tanya dokter Junpei padaku.
Tak kudengarkan apa yang Dokter Junpei katakan. Aku terlampu penasaran dengan sosok Yamashita. Waktu terasa begitu melambat. Kulihat pria itu membalik badannya secara perlahan. Sangat perlahan hingga rasanya aku mau meledak dibuatnya harus begitu penasaran seperti ini. Sangat lambat dan akhirnya dia menatapku dengan senyuman ramah di bibirnya.
"Iya. Ada apa?" Tanya pria itu padaku. Aku tertegun, terkejut, terdiam mematung, tak sanggup berkata-kata.
"Nama Anda Yuko kah? Anda pasien Dokter Junpei? Anda kan yang melakukan operasi transplantasi kornea itu? Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya padaku bertubi-tubi dan aku masih tak mampu meresponnya.
"Perkenalkan, saya Yamashita Tomohisa. Yoroshiku onegaishimasu." Ucapnya lagi sambil sedikit membungkukan tubuhnya.
Benarkah dia Yamashita Tomohisa? Yamashita yang selalu mendengar semua keluh kesahku? Yamashita uamh selalu memberi saran yang sangat bijak? Yamashita yang selama ini aku nanti kehadirannya? Yamashita yang telah merebut hatiku?
Bukan!! Dia bukan Yamashita!
Walau aku tak pernah melihat wajahnya, tapi aku mengenal suaranya dan cara bicara nya dengan sangat baik. Suaranya Yamashita yang kukenal terdengar berat namun begitu lembut dan mendamaikan.
Pria ini bukan dia!!
"Sumimasen, saya salah orang." Ucapku sambil buru-buru berlari meninggalkan mereka berdua.
"Yuko.. Yuko.." Suara dokter Junpei memanggil-manggilku.
Air mata sudah memenuhi pelupuk mataku. Ingin sekali aku menangis. Berlarilah aku menuju taman rumah sakit dan terduduk di bangku taman ini yang sudah lama tak kusinggahi sejak aku melakukan operasi transplantasi, sejak aku sudah membenci dan belajar melupakan dirinya.
Langit menjelang senja hendak menjemput Sang Rembulan. Lukisan Tuhan terlihat memukau dari tempat duduk ini. Sangat indah. Rumah sakit yang terletak di dataran tinggi, membuat hamparan kota Tokyo terbentang di bawah sana. Gunung Fuji menjulang megah di kejauhan. Awan-awan, beburungan, dan angkasa terlihat begitu jingga.
Jingga?
Jingga??! haa?!
Percuma saja jingga tampak indah tapi hanya bisa mengingatkanku padamu. Aku menangis di bangku ini. Kutumpahkan segala perasaan yang sempat teredam karena kebahagiaan operasi transplantasiku. Aku menangis dengan sangat kencang hingga bahuku bergetar. Aku terus menghujatnya di dalam hati hingga aku dikejutkan dengan sebuah tepukan ringan di bahuku. Seketika aku mencari tahu siapa yang tengah menepukku. "Dokter Junpei?" Seruku ketika kudapati dia tengah berdiri disebelahku.
Aku begitu malu terlihat lemah didepannya. Buru-buru kuseka airmataku. Dia berpindah duduk sebelahku.
"Ambilah.." Ucap Dokter Junpei sambil mengulurkan sapu tangannya.
"Gomen-nasai." Sahutku sambil meraih sapu tangan itu dan kembali menyeka air mata yang tersisa.
"Aku tahu mengapa kau menangis." Ucapnya sambil menatap ke langit itu.
"Ha?" Tanyaku tertegun.
"Kau pasti membencinya, kan?" Ucapnya lagi yang membuatku makin penasaran.
"Maksud Dokter?" Tanyaku benar-benar tak paham.
"Aku mengenal baik seseorang yang telah membuatmu menangis ini." Jawabnya lirih.
"Jadi dokter tahu kenapa aku menangis?" Tanyaku dengan otak penuh dengan pertanyaan.
"Pria yang kau maksud adalah Ryo Nishikido. Mahasiswa kedokteran. Usia nya sebaya denganmu. Kau dan dia sering menghabiskan waktu bersama di bangku ini. Terkadang aku melihat kalian dari kejauhan, mengobrol dan tertawa bersama sepanjang hari. Dia pria yang sangat baik, cerdas, dewasa dan ramah. Dia ingin sekali menjadi dokter jantung seperti Dokter Yamashita. Oleh karena itu dia mengaku dirinya sebagai Dokter Yamashita padamu. Kalian sudah kenal beberapa bulan yang lalu. Tapi tiba-tiba dia menghilang dari kehidupanmu begitu saja." Jelasnya padaku tanpa mengurangi sedikitpun pertanyaan di benakku.
"Jadi dokter mengenalnya?" Tanyaku lirih.
"Bagaimana mungkin aku tak mengenalnya. Dia adik kandungku. Ryo Nishikido dan aku kakaknya, Junpei Nishikido." Jawabnya sedikit bergetar yang membuatku tersentak.
"Lalu dimana dia? Kenapa dia tiba-tiba menghilang tanpa berkata apa-apa padaku? Kenapa dia tega meninggalkanku saat aku membutuhkannya? Kenapa dia begitu jahat tak seperti kau. Kenapa?" Tanyaku sambil menatap tajam ke arah Dokter Junpei.
Dia menatapku sekilas dan kembali melemparkan pandangannya. Dihelanya nafas panjang dan berkata,"Karena dia mencintaimu Yuko." Jawabnya yang langsung membuatku terdiam.
DEG!!
Apa yang Dokter Junpei katakan? Bagaimana bisa dia mencintaiku tapi justru meninggalkanku? Tidak mungkin. Aku begitu lelah dijejali pertanyaan demi pertanyaan hingga rasanya mau meledak saja otakku ini.
"Bagaimana mungkin dia mencintaiku?" Tanyaku tertunduk bingung.
"Kau tahu, sangat besar cintanya padamu. Hingga aku tak menyangka kenapa dia bisa mencintaimu terlampau besarnya. Aku akan sangat bahagia jika dia tetap disini bersamamu. Tapi ..." Belum sempat ia selesai berkata.
"Dimana dia sekarang?" Tanyaku memotong bicaranya,"Dimana dia,dok?"
Dia menatapku sekilas. Matanya sudah terlihat sangat berkaca-kaca. Ada apa ini? Kenapa pria kuat sepertinya sampai ingin menangis? Dimana sebenarnya Ryo? Dimana memangnya dia hingga membuat kakaknya ingin menangis?? Kulihat Dokter Junpei mengangkat tangan kanannya dan perlahan menunjuk ke arah langit senja yang terbentang di depan sana.
"Aku tak mengerti!" Seruku sesak sambil menahan tangisku yang sempat terhenti.
"Dia sudah sekarat saat bertemu denganmu. Malam saat kuhubungi bahwa kau mendapat donor kornea, saat itulah malam terakhirnya dan kau tahu, matamu adalah matanya, Yuko." Ucapnya perlahan yang saat itu juga meremukan hatiku hingga hancur tak berbentuk.
"Ryo?" Ucapku lirih.
Jadi sebenarnya.... Ryo... Kau telah memberikan apa yang paling kuinginkan dihidupku, setelah kau pergi meninggalkan ku sendiri di dunia ini. Aku sangat ingin menangis, sangat, namun air mata ku tak sanggup menetes. Apa ini yang dikatakan kesedihan yang terlampau mendalam hingga aku tak sanggup menangis. Seluruh tubuhku terasa lemas tak bisa menerima kenyataan yang ada. Dokter Junpei dengan cepat berusaha memegangiku.
"Yuko.." Ucapnya menenangkanku yang masih terdengar olehku.
Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang? Sebegitu besarnya cintamu padaku? Lebih baik kau menjadi pria kurang ajar yang selama ini tertanam di otakku dari pada aku harus tahu, bahwa kau terlampau mencintaiku hingga rela memberikan mata ini. Ingin rasanya semua ini mimpi belaka dan saat aku terbangun hanya gelap yang kudapati. Itu lebih baik. Asal kau tetap disisiku, Ryo.
Ryo.. Kau jahat.. Jahat..
Kau jahat karena telah membuatku begitu mencintaimu dengan segala kebaikanmu.
Ryo, aishiteru.
-oOo-
==END FLASHBACK==
(Yuko POV)
Air mata kembali menetes dari ujung mataku. Begitu tersentuh aku dengan kebaikannya. Mata ini adalah miliknya. Berkat matanya lah aku bisa menikmati keindahan jingga yang selalu ia katakan. Mata ini masih tertuju pada hamparan senja di atas danau Biwa ini. Namun terlampau indah untuk kunikmati sendiri.
"Nyonya Nishikido." Panggil seseorang dibelakangku mengusik lamunanku.
Cepat-cepat kuseka air mataku yang sempat terjatuh. Ku menoleh dan kulemparkan senyum termanisku.
"Ryo-chan.. kemarilah duduk di sebelahku." Ucapku riang.
"Lihatlah.. Aku bawa ramen. Ramen kesukaanku. Satu untukku, satu lagi untuk ibu. Dokter Junpei yang belikan." Ucap bocah kecil tampan ini padaku.
Kembali kumenoleh ke belakang.
"Arigatou ayah." Ucapku pada seorang pria yang tengah berdiri di belakangku.
"Sama-sama, istriku. Makanlah keburu dingin." Ucapnya sambil ikut duduk disebelah kami."Hey bocah kecil, kenapa kamu suka sekali panggil ayah dengan sebutan Dokter Junpei?"
"Ayah kan memang dokter. Salah ya kalau aku panggil ayah Dokter Junpei?" Tanya bocah ini polos."Kalau sudah besar nanti aku tak mau jadi dokter mata seperti ayah. Tidak keren. Aku mau jadi dokter jantung saja." Serunya begitu menggemaskan dan membuat kami berdua tergelak tawa.
Ya, saat ini aku telah menikah dengan Dokter Junpei Nishikido. Anak kami laki-laki berumur enam tahun, namanya Ryo Nishikido. Aku harap dia bisa sebaik pamannya, yang mencintai seseorang dengan sangat tulus dan selalu berbuat baik pada siapa saja.
Ryo.. Lihatlah.. Aku sudah bahagia saat ini. Kau juga bahagia kan disana?
==END STORY==
-oOo-


1 komentar untuk "[Fan Fiction] JINGGA"
ini kok nggak ditampilin semuanya?
:(
makasih admin..